Beranda | Artikel
Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 1): Wasiat Thahir bin Al-Husain
9 jam lalu

Politik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini tentu saja tidak terlewatkan dalam khazanah ilmu Islam. Bekal kepemimpinan politik pun menjadi sangat penting, agar urusan orang jamak ini bisa diurus dengan baik. Bukan hanya bagi pemimpin publik, tetapi juga penting bagi masing-masing kita. Karena Nabi ﷺ bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Bekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah Islam

Dalam sejarah literatur Islam, ada banyak wasiat politik dan kepemimpinan yang mengandung hikmah bagi kita. Salah satu wasiat terbaik dan paling komprehensif adalah surat yang ditulis oleh Thahir bin Al-Husain kepada anaknya yang menjadi gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun.

Ibnu Khaldun rahimahullah menjelaskan ketika surat ini muncul dan tersebar luas, masyarakat takjub padanya. Imam Thabari rahimahullah mengatakan bahwa surat ini begitu fenomenal dan dikaji oleh masyarakat luas. Bahkan surat ini juga sampai kepada Khalifah al-Ma’mun. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, ia pun berkata,

ما أبقى أبو الطيب – يعني طاهراً – شيئاً من أمور الدنيا والدين، والتدبير والرأي والسياسة، وصلاح المُلكِ والرَّعيَّة، وحفظ السلطان وطاعة الخلفاء وتقويم الخلافة، إلا وقد أحكمه وأوصى به

“Abu Thayyib, yakni Thahir, tidak menyisakan satu pun permasalahan dunia, agama, administrasi, pemikiran, politik, kemaslahatan kerajaan dan rakyat, penjagaan pemerintahan, ketaatan kepada para khalifah, dan penegakan khilafah, kecuali beliau telah menegaskannya dan memberikan arahan tentangnya.”

Al-Ma’mun kemudian memerintahkan agar surat tersebut disalin dan dikirim ke semua pejabat di berbagai daerah, sehingga mereka bisa menggunakannya sebagai contoh, dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Khaldun rahimahullah menilai wasiat Thahir ini adalah wasiat terbaik dalam masalah politik yang ia ketahui.

Mengenal Thahir bin Al-Husain Abu Thayyib

Thahir bin al-Husain bin Mush’ab bin Ruzaiq (159–207 H/775–822 M) ialah seorang amir, panglima tertinggi pasukan, yang dijuluki Dzul Yaminain (Pemilik Dua Tangan/Kedua Kekuatan), kunyahnya Abu Thalhah al-Khuza‘i. Ia adalah tokoh yang menegakkan dan memenangkan kekhalifahan al-Ma’mun.

Sebab, al-Ma’mun menugaskannya untuk memerangi saudara seayahnya, yakni al-Amin, pada Perang Saudara Abbasiyah (811–813 M). Dia pun berangkat memimpin pasukan yang sangat besar, lalu mengepung al-Amin. Ia berhasil mengalahkannya dan membunuhnya setelah al-Amin tertawan. Ia pun mendapatkan posisi gubernur seperti di Khurasan.

Ia adalah seorang yang berani, berwibawa, cerdas, dan lihai dalam berstrategi, dermawan, serta banyak dipuji. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin al-Mubarak dan riwayatnya pun diteruskan oleh putranya, Abdullah (penerima surat) serta Thalhah.

Thahir juga seorang yang berilmu, orator yang fasih, sangat pandai berbicara, serta penyair yang mumpuni. Ia mencapai kedudukan yang sangat tinggi, kemudian wafat pada usia 48 tahun pada tahun 207 H.

Dari biografi Thahir dalam Siyar A’lam An-Nubala (10: 108-109), cukup bagi kita untuk semakin merasakan pentingnya mempelajari wasiat beliau dalam kepemimpinan. Karena wasiat ini datang dari seorang pemimpin dan pelaku wasiatnya sendiri. Tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi hasilnya juga sudah terbukti. Termasuk pengejawantahan oleh Abdullah, penerima surat, yang berjaya di negeri kekuasaannya.

Metode pembahasan

Artikel ini akan ditulis dengan menukil secara umum wasiat Thahir yang cukup panjang. Kurang lebih surat ini berisi 2500 kata dalam versi arabnya, tentu dalam bahasa Indonesia akan lebih panjang dari itu. Oleh karena itu, pada beberapa bagian akan dipotong dan diambilkan faidah intinya. Kemudian ditambahkan faidah ataupun nukilan ayat dan hadis yang relevan dengan wasiatnya.

Setiap potongan wasiat akan diberikan subjudul yang memudahkan untuk mengambil pesan inti dari paragraf tersebut. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dengan keterbatasan penulis, di antaranya:

1) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Muassasah Risalah, ed. Musthafa Syaikh Musthafa.

2) Wasiat Thahir bin Al-Husain dalam Tarikh Thabari dari net.

3) Muntakhab Washaya Aba lil Abna’, karya Wail Hafizh Khalaf sebagai acuan penataan paragraf.

Terjemahan dicek dengan acuan:

4) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Wali Pustaka, pent. Ahmadie Thaha.

5) Serta dibantu Google dan ChatGPT untuk memahami frasa yang tidak dipahami.

Wasiat Thahir ini sangat penting untuk diketahui khalayak ramai karena faidahnya yang banyak sekali. Namun sayangnya, belum ada artikel berbahasa Indonesia di internet yang menyajikan ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah untuk kita semua dapat mempelajarinya.

Nasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninya

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du.

Hendaklah seorang pemimpin bertakwa kepada Allah semata, sebab tiada sekutu bagi-Nya. Takutlah kepada-Nya, hendaklah selalu merasa diawasi oleh-Nya, menjauhi segala yang mendatangkan kemurkaan-Nya, serta menjaga rakyatmu. Peliharalah selalu kesehatan yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan mengingat tempatmu kembali dan ke mana engkau akan pergi, serta hal-hal yang akan menjadi perhatianmu dan yang akan engkau pertanggungjawabkan. Juga, pastikan dirimu untuk melakukan semua itu sedemikian rupa, sehingga pada hari kiamat, Allah akan melindungimu dan menyelamatkanmu dari siksaan-Nya dan kepedihan azab-Nya. Sungguh, Allah ﷻ telah berbuat baik kepadamu, dan mewajibkan engkau memberikan kasih sayang kepada orang-orang di antara hamba-Nya yang memintamu mengatur urusan mereka.

Kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnya

Allah ﷻ telah mewajibkan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk berlaku seperti berikut ini:

  1. Memberikan kasih sayang,
  2. Berbuat adil,
  3. Menegakkan hak-Nya dan hukum-Nya pada rakyat,
  4. Membela, melindungi keluarga dan istri mereka,
  5. Mencegah pertumpahan darah,
  6. Memastikan jalan mereka aman,
  7. Menghadirkan kenyamanan dalam penghidupan mereka.

Thahir akan banyak menyebutkan poin nasihat secara berurutan seperti ini dan mengulanginya beberapa kali. Kami berusaha menyusunnya sesuai dengan tema pembahasan tanpa mengurangi esensi pesannya.

Setelah menyampaikan kewajiban-kewajiban ini, Thahir bin Al-Husain menyampaikan pengingat bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan:

ومؤاخذك بما فرض عليك من ذلك وموقفك عليه ومسائلك عنه ومثيبك عليه بما قدمت وأخرت

Allah ﷻ akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan kepadamu dalam hal ini. Dan Allah ﷻ akan menanyaimu tentang hal itu dan memberimu pahala atas apa yang telah kamu lakukan dan apa yang belum kamu lakukan.

Fokuslah terhadap amanah kepemimpinan

Konsentrasikanlah pikiran, otak, dan penglihatanmu untuk memimpin rakyat. Jangan sampai ada gangguan yang menarik perhatianmu dari itu. Inilah tugasmu yang pokok dan penting. Inilah hal pertama yang dengannya Allah akan memberikan bimbingan sukses kepadamu.

Langkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!

Selanjutnya, hendaklah hal pertama yang diwajibkan atas diri seorang pemimpin adalah senantiasa menjalankan salat lima waktu dengan berjemaah bersama orang yang dipimpin. Bahkan, Thahir bin Al-Husain merincikan seluruh tata cara yang hendaknya dilakukan, yakni:

  1. Berwudu sebelum salat,
  2. Memulai salat dengan bertakbir,
  3. Membaca ayat dengan tartil,
  4. Menyempurnakan rukuk, sujud, dan tasyahud,
  5. Senantiasa meluruskan niat salat,
  6. Mengajak orang-orang, khususnya di ring-1 nya untuk salat berjemaah.

Apa hikmahnya? Thahir bin Al-Husain membawakan ayat,

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Ikuti sunah Nabi dan jalan para salaf

ثم أتبع ذلك الأخذ بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم والمثابرة على خلائقه واقتفاء آثار السلف الصالح من بعده

Kemudian, hendaklah ini diikuti dengan mengadopsi sunah-sunah Rasulullah ﷺ, selalu menerapkan akhlak-akhlaknya, dan mengikuti tradisi para salaf saleh setelah beliau.

Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan istikharah, ketakwaan kepada-Nya, serta berpegang teguh kepada apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Ikutilah pula apa yang datang dalam atsar-atsar dari Nabi ﷺ, kemudian tegakkanlah dalam perkara itu apa yang menjadi hak Allah atasmu.

Bagian awal dari wasiat Thahir ini menjadi keistimewaannya dibandingkan wejangan politik lainnya. Thahir memulai panduannya dengan penekanan pada bekal ketakwaan. Tidak hanya pengaplikasian pada gagasan dan filosofi, tetapi juga pada level praktikal, yakni mengajak rakyat untuk salat berjemaah. Tentu saja hal ini tidak ditemukan pada wejangan politik dari peradaban lain.

Tidak hanya itu, wasiat Thahir juga menekankan untuk berpegang pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jalan para salaf. Hal ini tentu merupakan bawaan dari pribadinya yang hidup dalam tradisi ahli hadis. Sehingga semangat kembali kepada sunah terus diwariskan dalam paradigma kepemimpinan pada anaknya. Wasiat ini menjadi keistimewaan tersendiri. Lebih daripada itu, tentu saja pesan utamanya adalah para pemimpin hendaknya memperhatikan urusan ketakwaan dan kecocokan kepada sunah dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam.

[Bersambung]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/115379-wasiat-thahir-bin-al-husain.html